Cari Blog Ini

Memuat...

Rabu, 06 April 2011

Contoh Makalah Komunikasi Antar Budaya


Eksistensi Budaya Populer dan Massa

 

BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang.

Salah satu kekuatan dominan yang saat ini sangat memengaruhi perkembangan bahasa kita adalah industri budaya (culture industry). Uniknya, fenomena merebaknya industri budaya selama ini ternyata dipersepsikan sekadar sebagai aktivitas manusia yang dinilai secara inferior. Hal ini dapat disimak ketika dalam Kongres Kebudayaan V di Bukittinggi, Sumatera Barat, 20-23 Oktober 2003 lalu, pembicaraan mengenai industri budaya hampir saja tidak diagendakan. Bahkan dalam kongres kebudayaan sebelumnya, topik itu belum pernah disentuh sama sekali.
Tidak mengherankan ketika Kongres Kebudayaan berakhir, rekomendasi yang digulirkan adalah upaya untuk membentuk Departemen Kebudayaan. Ini dengan alasan supaya kita mempunyai kemandirian dalam mengembangkan dan memelihara kebudayaan bangsa.
Rekomendasi itu bernilai ironis karena budaya (dan juga bahasa) kita seakan-akan dapat diproteksi dari pengaruh luar yang dianggap buruk atau jahat. Tampaknya sifat eksklusivisme sengaja dijunjung tinggi untuk mengembangkan budaya dan bahasa kita. Adapun industri budaya sendiri telah diberi label sebagai kekuatan pengancam yang akan merusak, bahkan mendestruksi bahasa Indonesia. Kemudian, apa sebenarnya industri budaya itu?

1.2   Tujuan
Eksistensi budaya pop dewasa ini bahkan sudah sejak lama tidak diragukan lagi dalam mendoktrinisasi umat manusia umumnya. Berbagai hasil dari kebudayaan pop sendiri seperti, pakaian bertuliskan band-band ternama, sepatu-sepatu dengan berbagai modelnya, serta dalam bntuk makanan yaitu mie instant dan sebagainya, telah mendarah daging di kehidupan ini.
Kehidupan pun menjadi ‘berwarna’ alias tidak statis begitu saja. Dialektika kehidupan juga ikut bermain di dalam jaman modernisasi saat ini.
Untuk mengetahui sejauh mana daya tarik budaya pop tersebut mempengaruhi kehidupan dunia ini, semua coba untuk dipaparkan dalam makalah ini.

BAB II
PEMBAHASAN

1.1  Pengertian
Sebagaimana dikemukakan Adorno dan Horkheimer, industri budaya dapat dimengerti sebagai budaya yang sudah mengalami komodifikasi serta industrialisasi, diatur dari atas (maksudnya kalangan teknisi serta industriawan yang bekerja di media massa, misalnya surat kabar dan stasiun televisi), dan secara esensial memang diproduksi semata-mata untuk memperoleh keuntungan (making profits).
Dengan kata lain, industri budaya ditandai oleh proses industrialisasi dari budaya yang diproduksi secara massal serta memiliki imperatif komersial, sehingga proses yang berlangsung dalam industri budaya ini adalah komodifikasi, standardisasi, serta masifikasi.
Komodifikasi berarti memperlakukan produk-produk budaya sebagai komoditas yang tujuan akhirnya adalah untuk diperdagangkan. Standardisasi berarti menetapkan kriteria tertentu yang memudahkan produk-produk industri budaya itu mudah dicerna oleh khalayaknya. Adapun masifikasi berarti memproduksi berbagai hasil budaya dalam jumlah massal agar dapat meraih pangsa pasar seluas-luasnya.

1.2  Konsep
Perkembangan industri budaya itu dapat dilihat dari berbagai produk yang dihasilkan oleh budaya populer (popular culture). Konsep budaya populer itu ternyata sangat beraneka ragam, seperti yang dapat dirumuskan berikut ini.
Pertama, budaya pop dapat dipahami sebagai kultur yang berasal dari rakyat, oleh rakyat, serta semua hal yang disukai oleh rakyat. Namun, istilah budaya pop sebagai budaya rakyat mempunyai kesamaan dengan istilah folk culture. Lalu, apa perbedaannya? Folk culture sebagai budaya rakyat sebenarnya berawal dari konsep tentang rakyat pada zaman ketika produksi ekonomi masih dalam bentuk feodalisme. Jadi, pengertian rakyat dalam kaitan ini mempunyai relasi kekuasaan dengan pihak kerajaan. Atau lebih tegas lagi adalah rakyat (petani) versus raja, sehingga, konsep folk culture pada akhirnya memang lebih dekat dengan produk kebudayaan yang berkarakter tradisional, seperti lagu, musik, teater, serta bentuk kesenian lain yang bersifat tradisional. Semuanya dicirikan dengan kesederhanaan (bahkan kevulgaran), karena memang sengaja dioposisikan dengan konsep kehalusan dari pihak kerajaan.
Lalu, kalau konsep tentang rakyat itu sekarang sudah beralih dari feodalisme menuju zaman kapitalisme, siapakah yang sesungguhnya "pantas" disebut rakyat itu? Secara gampang, sebut saja sebagai misal kaum buruh, golongan marginal, serta siapa pun yang termasuk dalam strata atau kelas bawah (lower class). Jadi, secara lebih simplifikatif, budaya pop berarti produk kultural yang berasal dari kalangan kelas bawah, untuk kalangan kelas bawah, serta banyak disukai juga oleh kelas ini.
Ciri budaya pop ini adalah spontanitas, "kekasaran" (untuk tidak menyebut vulgar), serta dianggap berselera rendah. Ini, tentu sengaja, merupakan posisi yang berlawanan dengan kalangan kelas atas.
Pembentukan budaya pop versus budaya tinggi ditentukan oleh budaya selera (taste culture). Kemudian, siapakah penentu dari taste culture ini? Jelas, mereka yang (merasa) mempunyai otoritas untuk memberikan penilaian, yaitu kaum elite kebudayaan yang berasal dari kelas atas.
Kedua, budaya pop berarti lawan dari budaya tinggi (high culture). Budaya pop merupakan karya kultural yang tidak dapat masuk dalam kriteria budaya tinggi. Dalam pemahaman ini, budaya pop tidak lebih dari sekadar sebagai "sisa-sisa" budaya tinggi yang dianggap bernilai luhur, terhormat, serta bernilai adiluhung. Apa yang dimaksud sebagai budaya tinggi ini, tentu saja, dimiliki oleh kalangan yang serba terbatas. Pemilik dari budaya tinggi ini adalah para elite, entah yang bernama intelektual, seniman besar, ataupun kritikus ternama yang mematok tinggi-rendahnya mutu suatu karya budaya. Jadi, lebih tepat kalau budaya pop disebut sebagai budaya sampah atau ada yang menamakannya sebagai kitsch.
Ketiga, budaya pop dalam pengertian seperti yang dikemukakan kalangan neo-gramscian. Konsep budaya pop ini tidak lepas dari terminologi hegemoni sebagaimana yang pernah dikonseptualisasikan oleh Antonio Gramsci.
Hegemoni merupakan suatu fenomena kekuasaan yang selalu diwarnai berbagai pertarungan yang tidak pernah berhenti. Kemenangan yang dimiliki oleh pihak yang berkuasa untuk melakukan dominasi terhadap pihak yang dikuasainya bersifat sementara dan memang tidak akan pernah langgeng serta selalu dalam kondisi tidak stabil . Maka, dalam hal ini, budaya pop merupakan wilayah pertarungan kekuasaan yang dilakukan oleh pihak kelas tertindas melawan kelas yang menindasnya.
Misalnya saja, musik yang bertemakan protes sosial merupakan perwujudan dari perlawanan terhadap sistem kekuasaan, ideologi yang sedang berlaku (prevailing ideology), dan pihak yang berkuasa.
Keempat, budaya pop berarti budaya massa (mass culture). Artinya adalah pengertian mengenai apa yang disebut populer sebagai the people atau rakyat, tidak berasal dari kalangan rakyat. Pengertian populer didesakkan dari kalangan tertentu, misalnya perusahaan besar atau korporasi media yang mempuyai tujuan komersial.
Dalam lingkup pengertian ini, budaya pop mempunyai tujuan untuk dijual atau dipasarkan, sehingga dapat meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Tidak pelak lagi, yang dicari adalah profit melalui mekanisme pasar dalam wujud permintaan-penawaran. Konsep yang keempat inilah yang paling dikenal serta diangap sebagai ancaman terbesar bagi perkembangan budaya dan bahasa kita. Ini disebabkan adanya pandangan bahwa komersialisme merupakan ciri utama budaya pop. Tidaklah mengherankan jika ada beberapa karya seni yang muncul dan sedemikian meledak (booming) dalam waktu seketika, namun cepat menghilang pula. Lihat saja, sebagai sebuah contoh kasus, gambar Che Guevara yang diproduksi secara massal untuk dibuat sebagai hiasan dinding, emblem, penerbitan buku, kaus, dan berbagai aksesori lain.
Berbagai pihak yang membuatnya pasti mempunyai tujuan komersial, karena memang laku di pasaran. Padahal, sebenarnya, Che Guevara merupakan sosok yang dijadikan simbol perlawanan. Di sinilah bertemu dua kepentingan yang berbeda: perlawanan dan penjualan dalam jumlah massal. Semua kalangan, terutama anak-anak muda, gemar sekali mengenakan simbol atau gambar Che Guevara. Artinya, Che Guevara memang sudah telanjur ngetop dan nge pop.
Fenomena lain dari budaya pop dapat juga disimak dari tayangan MTV. Gaya bicara yang disemburkan oleh para pembawa acara yang dikenal dengan sebutan VJ (video jockey) menjadi tren budaya kaum muda, seperti gaya bicaranya yang berkesan lepas dan ceplas-ceplos yang juga diiringi model berpakaian yang serbasantai.
Simaklah bagaimana para pembawa acara itu dengan seenaknya sendiri mencampuradukkan antara bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Ini belum lagi ditimpali dengan ungkapan yang kerap kali bermunculan, seperti keren abis, tops banget, dan juga OK punya. Inikah yang dituding sebagai perusak bahasa nasional kita?
Bisa jadi memang demikian! Hal ini disebabkan perkembangan bahasa Indonesia selalu dibayangkan bersifat eksklusif dan sengaja dibatasi untuk berinteraksi dengan budaya pop. Padahal, dalam budaya pop itulah perkembangan bahasa kita dapat dipacu untuk aspek-aspek yang bersifat pragmatis (penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari).
Kita memang tidak dapat mengharapkan bahasa formal-talisan "yang baik dan benar" muncul dari arena budaya pop semacam ini. Sebab, soal benar-salahnya berbahasa sangat ditentukan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa yang telah menjadi rezim kebenaran dalam perkembangan bahasa kita.

BAB III
KESIMPULAN

Dalam suatu budaya, jika budaya tersebut membentuk suatu kenyataan, maka dari proses pembentukan realitas atas konstruksi sosial yang ada tersebut akan membentuk suatu kepercayaan akan suatu ‘teks’ atau makna yang terkandung didalam suatu ‘konteks’ tertentu dalam suatu masyarakat. Kepercayaan yang muncul tersebut akibat dari manifesto konstruksi sosial yang diberikan oleh orang atau golongan tertentu dalam menghegemoni suatu kelompok masyarakat tertentu untuk mendapatkan keuntungan maksimal.
Disamping itu, proses pembentukan kepercayaan yang didasarkan pada persepsi akan suatu realitas mencoba melihat bahwa realitas yang terjadi dalam masyarakat tesebut dimaknai sedemikian rupa untuk mendapatkan suatu ideologi yang dapat membantu individu atau kelompok dalam memaknai dirinya sendiri, sehingga mereka mempunyai suatu kepercayaan akan suatu hal yang mereka anggap ‘pasti’ dan sejalan dengan kenyataan atau realitas yang ada dalam kehidupan sehari-hari.
Dari penjelasan diatas, kita dapat mengetahui bahwa budaya popular merupakan suatu bentuk budaya yang terbentuk akibat adanya suatu realitas yang terkonstruksi sedemikian rupa, sehingga membentuk suatu identitas tertentu dimana dengan adanya identitas tersebut manusia dapat menguasai dan merekonstruksi pikiran orang lain dengan menanamkan berbagai macam ideologi yang dimilikinya demi kepentingan individu maupun golongan tertentu. Tentunya individu yang sanggup melakukan hal tersebut hanyalah individu atau golongan yang ‘menguasai’ faktor produksi yang ada dan dapat mengendalikan media.
Budaya pop yang muncul tersebut tidak dapat lepas dari sarana utama yang digunakannya, yaitu media massa. Dalam kajian budaya, media massa merupakan salah satu saluran utama penyebaran ideologi dari kaum-kaum tertentu, oleh karena itu penyebaran tersebut dapat disebut juga sebagai ‘budaya media’ ( media culture ), dimana menghegemoni masyarakat untuk ‘satu’ dalam suatu ‘dunia tanpa batas ruang dan waktu’ (globalisasi). *

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar